Bagaimana Menyiasati Kenaikan Tarif Dasar Listrik

Dengan semakin meningkatnya Tarif Dasar Listrik (TDL) khususnya untuk pengguna listrik dengan daya di atas 900 watt, kita dituntut untuk menjadi semakin cermat lagi mengatur finansial kita. Saya sendiri sebenarnya cukup kaget saat akan bayar tagihan listrik bulanan. Rumah saya menggunakan listrik dengan daya 900 watt. Di bulan-bulan sebelumnya, biasanya tagihan berada pada kisaran Rp 100ribuan. Tapi kemudian tiba-tiba melonjak menjadi hampir Rp 200ribuan. Bahkan sempat mencapai angka lebih dari Rp 200ribu. Jujur saja, saya agak kaget karena penggunaan listrik tidak berubah. Artinya, saya tidak menambah beban penggunaan listrik melebihi dari biasanya. Makanya, saya sempat curiga bahwa meteran listrik saya bermasalah mengingat perbedaannya yang cukup signifikan. Namun saya menjadi merasa maklum setelah kemudian saya mengetahui bahwa TDL memang dinaikkan oleh pemerintah. Ya, saya memang cukup terlambat mengetahui berita tersebut.

Bagi Anda yang merasa kenaikan TDL ini menambah beban finansial Anda, Anda sebenarnya tidak sendirian. Saya yakin masih banyak orang di luar sana yang berpikiran sama seperti Anda. Saya sendiri juga merasa seperti itu. Tapi kemudian mau tidak mau kita harus maklum karena kenaikan TDL ini memang diperlukan. Bagi Anda yang merasa bahwa pemerintah saat ini semakin menekan rakyat karena menaikkan TDL, sebaiknya Anda harus tahu terlebih dahulu latar belakang mengapa pemerintah melakukan hal tersebut. Alasan utamanya adalah karena beban subsidi yang ditopang oleh pemerintah semakin membebani keuangan negara. Makanya secara perlahan, pemerintah mulai memangkas subsidi karena kalau tidak, bisa-bisa negara ini bankrut. Beberapa tandanya sebenarnya sudah bisa dilihat sebelum kenaikan TDL yang terakhir. Sebagai contoh, bensin jenis premium mulai langka ditemui dan digantikan dengan pertalite yang notabene bukan merupakan BBM bersubsidi. Kemudian, silakan Anda cermati juga bahwa tabung gas berukuran 3 kg atau yang sering disebut tabung gas melon juga secara perlahan mulai susah ditemui. Lagi-lagi, alasan untuk memangkas subsidi menjadi alasannya. Dan sebagai warga negara yang baik, kita harus merasa maklum dan tetap mendukung kebijakan pemerintah. Cobalah untuk yakin bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah adalah yang terbaik untuk negara dan juga rakyatnya.

Lalu, apakah kemudian kita harus berdiam diri saja menerima kenaikan TDL ini? Tentu saja tidak. Namun pastinya, kita jangan sampai melakukan tindakan protes. Yang dimaksud untuk tidak berdiam diri di sini adalah untuk menyiasati beban pengeluaran akibat kenaikan TDL. Jika TDL naik, dan kita tidak ingin terlalu terbebani, solusi yang terbaik adalah untuk mengurangi penggunaan listrik kita. Sebenarnya, secara tidak langsung, pemerintah juga mendorong kita untuk menghemat pemakaian listrik dengan menaikkan TDL. Karena kita semua harus tahu bahwa listrik semakin lama semakin langka. Penggunanya semakin banyak, dan tidak diiringi dengan sumber daya alam yang bisa diubah menjadi sumber energi listrik.

Bagaimanakah siasat yang paling jitu untuk mengurangi penggunaan listrik di rumah kita? Yang paling utama dan paling penting sebenarnya adalah mengurangi penggunaan lampu saat tidak dibutuhkan. Ternyata, di luar sana masih banyak orang yang tetap menyalakan listrik padahal hari sudah pagi. Mereka berpikiran bahwa satu lampu yang menyala tidak akan menambah banyak pemakaian listrik. Pikiran ini sebenarnya salah karena jika lampu tersebut terus menyala, tentunya penggunaan listrik akan terakumulasi. Kemudian, hindari menyalakan TV jika memang tidak ditonton lagi. Kebiasaan tertidur saat menonton TV harus mulai dikurangi atau bahkan dihilangkan. Gunakan fitur timer di TV Anda agar TV bisa mati secara otomatis setelah waktu tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *